Review Film Fiksi (2008): Ambiguitas Fiksi dan Realita

 ⭐⭐⭐⭐





Sinopsis:


Berkisah mengenai seorang perempuan muda penyendiri menjadi terpikat dengan seorang penulis yang sedang berjuang untuk menyelesaikan karyanya dan berusaha untuk terlibat dalam proses kreatifnya.


Review / Analisa:


Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah, saya telah miskonsepsi mengira bahwa ini adalah film romantis, karena sinopsis yang disuguhkan membuat saya mengiranya seperti itu. nyatanya, film ini adalah sebuah adikarya fenomenal sinema Indonesia.


Bercerita mengenai seorang gadis penyendiri yang bernama Alisha dari keluarga kalangan atas yang hidup secara terkekang oleh kekuasaan dari Ayahnya. secara lingkungan sosial, ia memiliki rumah yang megah namun terasa sunyi.


Praktik kekuasaan Ayahnya ini membuat sifat Alisha menjadi memberontak, selain itu pula secara kebutuhan apapun yang Alisha inginkan selalu tercapai dengan mudah, tetapi kontradiksi yang terjadi adalah dalam relung jiwa Alisha, ia ingin menjadi seorang gadis mandiri tanpa bantuan kuasa dari siapapun.


Hingga suatu hari, datanglah seorang pemuda berambut gondrong bernama Bari kerumahnya. Ia bekerja sebagai asisten yang sebenarnya pekerjaannya adalah serabutan, disamping itu ia merupakan seorang penulis buntu yang ingin menyelesaikan karyanya, namun masih gamang dengan akhir dari ceritanya.


Film ini berfokus tentang bagaimana Alisha keluar dari zona nyamannya, tinggal di sebuah lingkungan baru yakni rumah susun dengan tujuan agar dapat mencari suasana baru serta membantu Bari menyelesaikan tulisannya.


Film ini dilukiskan sangat indah oleh sang sutradara, isu-isu yang cukup fundamental yakni tentang loneliness dan mental health dihadirkan di film ini, dan bagaimana dinamika selanjutnya yang terjadi.


Penggambaraan akan rumah susun tempat Alisha dan Bara tinggal sangatlah bagus, serta gaya penceritaan yang menceritakan deskripsi tingkat-tingkat di rumah susun ini dengan berbagai macam latar belakang manusianya juga bagus.


Kisah yang menarik saya adalah bagaimana bunuh diri selalu dihadirkan di film ini, seorang bapak-bapak idealis yang memilih untuk menggelar tikar di depan rumah susun dan enggan masuk dalam waktu yang cukup lama yakni bertahun-tahun, tidur di depan rumahnya karena sebelum rumah susun tersebut dibangun, itu adalah tanah miliknya dan ia tidak mendapat ganti rugi akan hal itu.


Idealisme dengan egoisme memang hal yang cukup relevan menurut saya, orang-orang idealis adalah orang-orang yang berpegang teguh pada prinsip mereka, meskipun realita yang menjadi bayarannya.


Kembali ke substansi film yakni Alisha dan Bari bekerja sama dalam membantu proses kreatifnya, hingga in the end semuanya berakhir dengan nuansa yang indah.


Adegan dengan makna yang mendalam di film ini menurutku:






Catatan Kaki:


https://www.cultura.id/fiksi-review


https://letterboxd.com/film/fiction-2008/

Komentar

Postingan Populer